Pondasi seorang marketer (pemasar) muslim

Pola pikir (input) seorang marketer sangat menentukan terhadap strategi strategi marketing yang akan dihasilkan (output). Tidak heran di era kapitalis seperti sekarang banyak marketer yang terkadang tidak mempedulikan efek dari strategi / kampanye marketing yang telah dibuat, yang penting perusahaan atau usahanya untung.

Hal ini sangat bertentangan dengan pola pikir (aqliyah) seorang muslim. Bagi seorang muslim apapun usaha atau pekerjaannya ia harus menerapkan pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) yang islami. Taqiyuddin an Nabhani dalam kitabnya (pilar pilar pengokoh nafsiyah islamiyah) menjelaskan :

Syakhsyiah (kepribadian) terbentuk dari perpaduan aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap)

Jadi output dari strategi marketing yang akan kita hasilkan sangat dipengaruhi oleh pola pikir (aqliyah) yang kita adopsi. Pola pikir ini dibentuk dari pemahaman pemahaman yang kita adopsi sebelumnya. Jika semasa kuliah / saat mempelajari marketing pikiran kita lebih sering dipenuhi oleh ide ide dari para kapitalis, tak heran output yang kita hasilkan selalu berujung pada keuntungan.

Dan terkadang strategi marketing yang kita rumuskan (baik itu kampanye marketing, iklan, dsb) dengan pola pikir kapitalis, tak pernah memikirkan dampak yang akan ditimbulkan karna yang penting untung!

Lantas bagaimana pola pikir marketer muslim?

1. Niat

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Niatkan semua karna ibadah, jangan semata mata karna keuntungan. Saat kita sedang memikirkan strategi marketing atau sedang membuat kampanye, iklan dsb niatkan semuanya karna ibadah. Dengan ini insyaaAllah kita akan mendapatkan keuntungan ganda, baik dari sisi profit maupun pahala dari ibadah yang kita kerjakan

2. Standart

الأصل في المعاملة الإباحة إلا أن يدل دليل على تحريمها

Hukum asal dalam semua bentuk muamalah adalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya

Saya teringat ada kaidah fikih yang mengatakan jika hukum asal muamalah adalah boleh (mubah), kecuali ada dalil (al Qur’an, Hadits, Ijma) yang mengharamkannya. Sebagai seorang marketer terkadang kita bisa bersinggungan dengan hal hal yang haram, misal saat hendak membuat iklan / kampanye dari produk produk seperti bir, produk rokok, kondom, dsb.

Meski ada perbedaan dikalangan para ulama, ada yang menghukumi rokok haram dan ada yang menghukumi makruh, tapi efek dari iklan rokok terkadang sangat tidak mendidik dan menimbulkan efek negatif bagi generasi muda.

3. Profit

Divisi marketing dalam sebuah perusahaan diciptakan untuk mencetak profit. Dalam ekonomi islam boleh boleh saja kita mengambil untung. Bukan berarti karna kita sebagai marketer muslim lantas kita tidak boleh mengambil untung. Lantas bagaimana usaha kita akan berjalan jika tidak ada keuntungan? Padahal telah jelas firman Allah yang menghalalkan jual beli, dan profit adalah salah satu elemen dalam jual beli

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“… padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS. Al Baqarah: 275)

4. Maslahat

Di dalam kamus besar bahasa indonesia kata maslahat berarti :

sesuatu yg mendatangkan kebaikan (keselamatan dsb); faedah; guna: pelebaran jalan itu membawa — bagi penduduk;
ke·mas·la·hat·an n kegunaan; kebaikan; manfaat; kepentingan: seorang dermawan banyak beramal untuk – manusia

Nah, sebagai seorang marketer muslim sangat penting bagi kita menjadikan halal dan haram sebagai standart dan maslahat juga sebagai standart kita. Saat membuat sebuah strategi marketing, iklan, atau sebuah kampanye dari sebuah produk penting bagi kita untuk memikirkan adakah maslahat dari strategi yang kita buat?

Maslahat disini artinya, apakah stategi kita benar benar memiliki dampak positif bagi konsumen? Apakah stategi kita memiliki manfaat bagi konsumen? Jangan sampai strategi, iklan atau kampanye yang kita buat malah menipu atau memberikan dampak negatif kepada konsumen.


Sumber :

1) http://muslim.or.id/hadits/penjelasan-hadits-innamal-amalu-binniyat-1.html